• gambar
  • header

Selamat Datang di Website MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 9 JAKARTA PUSAT. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 9 JAKARTA PUSAT

NPSN : 20178144

Jl. Johar Baru Utara I No. 50 Johar Baru, Jakarta Pusat


info@mtsn9jkt.sch.id

TLP : 021-4252061


          

Prestasi Siswa


Beasiswa MAN IC

Jakarta (Humas MTsN 9) -- Siswa MTs Negeri 9 Jakarta Pusat kembali menunjukkan prestasi akademiknya setelah lulus seleksi beasiswa Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia. Iqbal Mubarok, Wildan Farid, Alifah Badzlin, Ariq Muhammad Sultan, Ilham Manzhist adalah lima siswa kebanggaan MTsN 9 Jakarta yang telah lulus seleksi PPDB MAN Insan Cendekia. Seleksi tersebut dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2017.dan Hasan Uraydi, Ilham Manzist juga mendapat beasiwa MAN PK (Program Kusus) Jogyakarta sedangkan Wildan Farid,Bachtiar Siddiq mendapat beasiswa MAN PK (Program Kusus) Ciamis Iqbal Mubarok berhasil menembus kuota MAN Insan Cendekia Pekalongan, sedangkan Wildan Farid, Alifah Badzlin, Ariq Muhammad Sultan, Ilham Manzhist berhasil lulus ke MAN Insan Cendekia Gorontalo. Seperti yang telah diketahui, MAN Insan Cendekia Pekalongan memiliki kuota sebesar 96 siswa, sedangkan MAN Insan Cendekia Gorontalo memiliki kuota sebesar 120 siswa. Siswa MTs Negeri 9 Jakarta Pusat tahun Ajaran 2016/2017 MAN Insan Cendekia adalah sebuah Madrasah Aliyah Negeri setingkat Sekolah Menengah Atas berasrama yang tersebar di 20 lokasi di Indonesia. Seluruh cabang MAN Insan Cendekia menerima siswa sesuai dengan kuota dan kapasitas yang tersedia di masing-masing cabang. Oleh sebab itu, MAN Insan Cendekia menyeleksi secara ketat calon siswanya untuk dapat menerapkan prinsip keseimbangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan taqwa.



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 75159
Pengunjung : 20581
Hari ini : 11
Hits hari ini : 47
Member Online : 0
IP : 54.164.198.240
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

MENGAPA MEMILIH SEKOLAH ISLAM




KENAPA MEMILIH SEKOLAH ISLAM ?

Setiap akhir tahun ajaran serta memasuki awal tahun ajaran baru, orang tua dan anak disibukkan dengan memikirkan kelanjutan sekolah, mau masuk ke sekolah yang mana? Kalau nilai yang diperoleh anak di bawah standar yang dapat di terima oleh sekolah yang baik atau berkualitas, tambah puyeng lagi orang tua. Pilihannya adalah tidak diterima di sekolah negeri masuk ke sekolah swasta, tidak ke pada keduanya ganggur, cari pekerjaan.

Indonesia masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Sejak Islam masuk ke wilayah Indonesia para tokoh agama Islam pribumi dan nonpribumi mendirikan sekolah nonformal khusus belajar agama yang dinamai dengan madrasah (bahasa arab) artinya sekolah. Ada juga yang dinamai dengan Pondok Pesantren  (Pontern). Madrasah pada awalnya dikelola oleh masyarakat secara pribadi demikian pula dengan Pontren. Yang belajar di madrasah dan pontren khusus belajar agama saja di kategorikan sekolah tradisional milik masyarakat, baik bersifat milik pribadi atau kelompok. Karena tamatan/lulusan madrasah dan pontren khusus belajar agama saja maka pengetahuannya hanya agama tok, tidak ada pengetahuan umum, sedangkan kebutuhan manusia dalam hidupnya bukan saja butuh ilmu pengetahuan agama tetapi juga pengetahuan umum. Kalau pendiri madrasah tidak memberikan pendidikan umum di madrasahnya maka anak didiknya menjadi orang cover (menutup diri), artinya tidak memiliki pengetahuan umum, disebut juga sekolah eksklusif (tertutup), sekolah yang tidak menerima pengetahuan umum kecuali agama.  Orang kalau hanya memiliki pengetahuan agama saja tidak memiliki pengetahuan umum atau sebaliknya adalah tidak lengkap alias pincang, seperti orang yang melihat dunia ini dengan sebelah mata, tentu pandangannya tidak luas (sempit), berbeda dengan orang melihat dunia ini dengan kedua matanya, yang tentu bisa melihat secara lebih luas. Orang yang bisa melihat dunia dengan kedua mata adalah orang yang sempurna penglihatannya. Demikian juga kalau orang bisa memperoleh ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum adalah orang yang sempurna ilmu pengetahuannya. Berkaitan dengan kepemilikan pengetahuan umum dan agama, firman Allah yang artinya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al Mujaadilah: 11). Maksudnya adalah, orang yang berilmu pengetahuan, ilmunya berguna untuk dirinya, bangsa, Negara dan pemerintahan serta masyarakat. Orang berilmu akan punya harga diri dan dihargai serta dihormati oleh banyak orang, dan baik pula dihadapan Allah.

Orang hidup bukan saja mementingan bekal akhirat tapi juga bekal di dunia, tidak hanya butuh ilmu pengetahuan agama tapi juga pengetahuan umum. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak akan menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77). Maksudnya adalah, orang hidup harus mencari bekal hidup di akhikrat dan bekal untuk di dunia ini, mencari kebahagian di akhirat dan di dunia ini, dimana Allah telah anugerahkan kemampuan kepada manusia yaitu akal, pikiran dan kelengkapan anggota badan seperti tangan, kaki, mata, pendengaran; apakah sudah dipergunakan untuk mencari kebahagiaan di akhrat dan di dunia ini?. Bekal di dunia adalah bersifat materi seperti: makan, minum, sandang, rumah, dll. Sedangkan bekal akhirat seperti: shalat, zakat, puasa, infak dan sedekah, anak saleh (anak yang berbakti kepada kedua orang tua), beramal dan berbuat kebaikan serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar dan ilmu yang bermanfaat.

Jika madrasah tidak mau meningkatkan menjadi sekolah modern maka tamatan/lulusan madrasah menjadi orang terasingkan dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, untuk memperoleh lapangan pekerjaan sulit karena tidak memiliki pengetahuan umum untuk bisa bekerja diperkantoran, bisnis, dagang, berwirausaha, dll. Menyadari permasalahan atau kekurangan dari madrasah itu maka harus ditingkatkan statusnya menjadi sekolah umum atau modern yaitu belajar ilmu agama juga ilmu pengetahuan umum. Sekolah umum negeri atau swasta juga ada belajar agama tetapi hanya sedikit yaitu 2 jam dalam satu minggu. 2 jam seminggu adalah jumlah jam minimal, kalau mau menambah boleh, tergantung pada pihak sekolah dengan orang tua murid.

Tahun 1989 madrasah terintegrasi (menyatu, gabung, nyatu) dalam sistem pendidikan nasional. Madrasah masuk dalam  Udang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor  2 Tahun 1989. Dalam UUSPN tersebut madrasah mendapatkan status sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam, artinya melaksanakan kurikulum pelajaran agama dan kurikulum pelajaran umum. Dengan demikian tidak ada perbedaan lagi madrasah dengan sekolah umum dalam hal mata pelajaran yang diajarkan di madrasah. Sekolah umum ada yang berstaus negeri dan ada pula yang swasta. Madrasah juga ada yang berstatus negeri dan ada yang swasta. Madrasah punya kelebihan dari sekolah umum dalam hal pendidikan agama lebih besar porsinya, kalau sekolah umum pendidikan agama 2 jam dalam satu minggu, sedangkan di madrasah 8 sampai dengan 10 jam dalam satu minggu. Belajar agama di madrasah terdiri dari mata pelajaran: Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab. Inilah yang menjadi ciri khas dari madrasah. Anak yang di sekolahkan di sekolah umum, dimana belajar agama sedikit, bisa diperoleh tambahan pendidikan agama untuk anak belajar agama pada ustad di masjid atau di mushala pada sore hari atau mengundang guru private.

Berkaitan dengan orang tua dengan anak. Anak adalah titipan dari Allah kepada kedua orang tuanya sebagaima firman Allah yang artinya “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia" (QS. Al Kahfi: 46). Maksudya adalah, anak adalah perhiasan hidup sebagaima harta kekayaan yang dimiliki seperti gelang, kalung, jam tangan, anting, mobil dan motor, perabotan rumah tangga dan pajangan-pajangan yang indah, dsb. Semua itu tidak di bawa mati, oleh karena itu jangan berlebihan menyangi anak sehingga melupakan menggit Allah. Jika sudah mati, semua orang membawa kebaikan dan keburukannya sendiri, mempertanggunjawabkan sendiri-sendiri terhadap apa yang dilakukanya semasa hidupnya.

Hadits nabi Muhammad dan Rasulullah Allah yang berbunyi “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani”. Maksudnya adalah, kedua orang tua mempunyai peran penting bukan hanya menjadikan (membuat), membesarkan tetapi juga mendidik, mengajari dan memberikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum yang baik dan bermanfaat. Yang penting dalam mendidik anak adalah orang tua harus melakukan perbutan baik dan menjauhkan diri perbuatan buruk, insya Allah anak akan mengikuti perbuatan baik dari kedua orang tua anak. Kalau kedua orang tua anak akhlaknya amburadul isnya Allah juga akan diikuti oleh anak-anaknya, sebagaimana slogan mengatakan “Daun kayu jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Banyak anak tidak berjalan di jalan Allah yang lurus dengan masuk kejalur dunia hitam (PSK), kejhatan, narkoba dan miras, dikarenakan didikan dan pengawan dari orang tua yang tidak baik, dan pergaulan dengan lingkungan yang buruk.

Kemudian firman Allah yang artinya Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka..” (QS. Al Tagabun: 14). Maksudnya adalah, istri bisa jadi musuh dari suaminya dan juga sebaliknya suami bisa menjadi musuh dari istrinya, dan anak-anak bisa jadi musuh dari kedua orang tuanya, dan sudah banyak terjadi pula orang tua jadi musuh dari anak-anaknya, sebab itu Allah mengingatkan dengan kata-kata “Berhati-hatilah”. Sudah ada kasus, suami aniaya istrinya, istri bunuh suaminya, anak aniaya orang tuanya, anak bunuh bapak atau ibunya. Pada kenyataannya, orang tua taat melaksanakan agamanya tapi anak tidak seperti orang tuanya. Kasus, ada pula orang tuanya tidak taat melaksanakan perintah agamanya tapi anaknya adalah anak yang saleh, ini muncul dari kesadaran anak sendiri, pangaruh pendidikan dan lingkungan.

Agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik harus diberikan pendidikan seperti apa?. Pilihan sekolah umum atau madrasah tergantung anak dan/atau kesepatakan antara anak dengan orang tua, jangan sampai terjadi tarik-menarik, orang tuanya ingin anak sekolah di madrasah sedangkan anak ingin di sekolah umum. Mengutamakan keinginan anak karena anak yang akan menjalankannya, bukan orang tuanya. Banyak kasus anak gagal sekolah drop out (ke luar), di keluarkan karena anak tidak sanggup mengikuti proses pendidikan atau siswa mengundurkan diri (mutasi keluar). Pilihan anak sekolah di sekolah umum atau madrasah berpengaruh pada motivasi anak dalam menjalankannya, karena itu tidak boleh dipaksakan; sesuatu yang dipaksakan adalah melanggar hak anak. Kemampuan bawaan anak atau bakat anak juga berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam menempuh pendidikan. Allah memberitahukan bahwa Allah tidak memberikan beban kepada hambanya (manusia) di luar kemampuannya sebagaimana firmanNya “Bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286)

Berdasarkan pernyataan Allah tersebut orang tua tidak boleh memberikan suatu pekerjaan yang di luar kemampuan anak untuk mengerjakan atau menyelesaikannya, demikian pula dalam hal pendidikan. Seperti juga, orang tua atau anak tidak selera dengan masakan tertentu, tentu tidak ada atau kurang bergairah untuk memakannya. Kasus anak bandel/nakal di masukan ke Pontren ada yang selamat banyak pula yang gagal, pulang dari Pontren anak ketewa-ketawa sendiri atau jadi pendiam. Orang tua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tidak ada waktu untuk memperhatikan anak, uang banyak, anak di masukkan ke Pontren, harapan orang tua bisa belajar dengan baik, nyatanya tidak seperti yang diharapkan. Masalah, anak tidak mau sekolah dipaksa sekolah, anak jadi bandel dan gagal sekolahnya. Kasus ini sudah banyak terjadi. Kasus dalam lembaga pendidikan, ada anak baik di sekolah, tidak baik di rumah; sebaliknya ada anak baik di rumah, tidak baik di sekolah.

Dalam menyekolahkan anak, orang tua harus memperhatikan kecenderungan kemampaun anak atau bakat anak dan bukan kemampuan atau bakat orang tua dipaksakan kepada anak, anak suruh menjalankannya. Jangan cita-cita orang tua harus diwujudkan oleh anak, yang dahulu orang tua tidak bisa meraihnya, yang anak sendiri tidak mau dengan cita-cita orang tuanya. Misalnya, orang tua inginkan anak jadi seorang insiyur atau dokter, sedangkan anak ingin ekonom, hukum atau politikus, dll. Sebagaimana sudah di singguh di atas, anak ingin sekolah di madrasah tapi orang tua ingin anak sekolah di sekolah umum atau terjadi sebaliknya anak ingin sekolah di sekolah umum sedangkan orang tuanya ingin di madrash atau Pontren. Kasus seperti itu akan bermasalah bagi anak dan orang tua, anak punya keinginan sendiri dan orang tua pun punya keinginan sendiri, terjadi tarik-menarik, dan pada umumnya dalam kasus seperti ini anak sering jadi korban keingian dari orang tuanya di bawah tekanan mental.

Anak harus bebas menentukan cita-citanya, peran orang tua adalah pendukung serta memfasilitasi. Allah telah menciptakan manusia dalam kemampuan yang bebeda-beda maka Dia (anak) akan menjadi sesuai dengan kemampuan bawaan dan yang diperolehnya dalam dunia pendidikan serta dari pengalamannya.

Sebagai penutup, firman Allah yang artinya Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad ayat 11). Masksudnya adalah, setiap manusia adalah bagian dari kaumnya, dari negara dan pemerintahan, bagian dari masyarakatnya. Kaum adalah kumpulan sekelompok masyarakat seperti kaum muslim, mukmin, nasrani, dan yahudi, dll. Ada hal-hal yang sudah menjadi ketetapan/ketentuan dari Allah kepada setiap manusia yaitu qada dan qadar, tapi setiap manusia mempunyai kewajiban untuk berikhtiar atau berusaha serta bekerja untuk merubah suatu keadaan, keadaan tidak baik menjadi baik, dari miskin akhlak menjadi berakhlak, miskin harta menjadi memiliki harta, miskin ilmu pengetahuan menjadi berilmu pengetahuan, dari bodoh menjadi pinter, tidak terampin menjadi terampil, dll. Hidup tidak haya dengan berdoa meminta segala seuatu kepada Allah tanpa berbuat sesuatu sebagai tindakan nyata dari berdoa adalah sia-sia. Contoh konkrit, seseorang sekolah ingin pinter tapi tidak belajar, tetap saja jadi orang yang bodoh. (Abdul Samin, 7 april 2017).




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas